Perjalanan

Semangat…!!!

Close House-kan Ayam Kampung Solusi Cerdas

Kelompok ternak ayam kampung “Cipta Usaha Mandiri” yang terletak di Desa Duren, Kecamatan Talun, Blitar menemukan solusi cerdas dalam pola pemeliharaan ayam kampung. Yang menarik adalah model kandang panggung tertutup rapat dari lantai dasar sampai atap. Hampir tidak pernah dibuka sehingga tak mendapatkan sinar matahari secara penuh. Tapi, mendekati lokasi kandang, bau kotoran tidak tercium dari area kandang tersebut.

“Model closed house ini sebenarnya berpijak dari niatan mengurangi sifat kanibalisme ayam kampung, itu yang utama. Sebelumnya, dalam kandang yang terang ayam kampung saling mematuk sehingga mengakibatkan ayam mengalami luka bahkan kematian. Total bisa mencapai 10%. Ternyata setelah ditutup rapat dengan ruangan agak redup, sifat kanibalisme jadi hilang. Keuntungan lainnya suhu lebih stabil dan penularan penyakit bisa ditekan. Bahkan kematian maksimal hanya 2%,” Mulyanto, Ketua Kelompok ”Cipta Usaha Mandiri”.
Usaha yang dirintisnya sejak 2003 ini, menurut Mulyanto, dapat dimulai dengan modal dan populasi kecil dan bibit diusahakan sendiri. Awalnya anggota ada yang memelihara 50 atau 100 ekor dan akhirnya berkembang. Jumlah anggotanya saat ini 32 orang dengan populasi 30.000 ekor lebih. Kelompok ini mengadakan bibit sendiri dari indukan dengan kriteria yang bagus. Induk didapat dari daerah Talun atau daerah lain di Kabupaten Blitar seperti Srengat, Kanigoro, atau Kawijayan. “ Induk kita lokal, alat-alat penetasan kita sudah ada tapi belum bisa memenuhi kebutuhan kelompok. Baru sekitar 40% yang dapat dipenuhi oleh kelompok sedang yang 60% kita masih mencari di luar”.

Ternyata ayam kampung sangat diminati oleh rumah-rumah makan dengan bobot 0,9 sampai 1 kg. Khususnya di Blitar, ayam yang bobotnya kurang dari 1 kg harganya lebih mahal dibandingkan dengan ayam yang berbobot 1,3-1,5 kg. Bobot diatas 1 kg pasarnya ke pasaran umum tidak lagi ke rumah makan atau restaurant”.

Usaha budidaya ayam kampung dengan model closed house ini tidak jauh berbeda dengan pola budidaya broiler. “Model ini menggunakan dua kandang dengan umur yang berbeda. Kandang satu untuk ayam umur 0 – 30 hari dan kandang pembesaran umur 31-75 (panen)”.
Masa Brooder prinsipnya tidak berbeda jauh dengan pola budidaya broiler. Perbedaan yang tampak hanya pada pada alat pemanas yang tidak menggunakan elpiji atau batubara tetapi dengan bola lampu listrik. Bola lampu berdaya 40 watt dengan ketinggian lampu 40 cm cukup untuk populasi ayam 100 ekor/m2 . Pola brooder ini menghasilkan suhu 37oC untuk usia ayam 0-7 hari. Pada masa ini sebaiknya ayam ditempatkan dalam sekat-sekat yang kecil. Semakin kecil populasi akan semakin mengurangi resiko kematian.
Sementara Pudianto seorang anggota kelompok, berkisah ayam kampungnya sudah berumur 30 hari, siap dipindah ke kandang pembesaran. Pada masa ini juga dilakukan pengelompokan berdasar ukuran tubuh ayam, bisa dilakukan pada umur 15, 25 hari atau menjelang masuk kandang pembesaran,” kata Pudianto.
Sebelum ayam masuk kandang pembesaran, kandang terlebih dahulu disemprot dengan desinfektan. Pada kandang pembesaran pun dilakukan penyekatan. Ukuran 1,5 m x 3 m untuk populasi 75 – 100 ekor. ”Agak padat sedikit lebih bagus,” jelas Mulyanto. Seperti yang di kandang Pudianto, untuk sekat ukuran 2 x 3 m dengan populasi 200 ekor. Untuk penerangan cukup dengan lampu 5 watt untuk ukuran luas 4 x 6 m.
Dalam hal pakan, peran Dinas Peternakan Kabupaten Blitar sangat membantu peternak dalam mengurangi biaya produksi pakan. “ Kita mendapatkan pengarahan dari dinas dan dibantu cara pembuatan pakan dengan kandungan protein terstandar. Tapi campuran pakan itu digunakan untuk ayam minimal umur 40 hari. Campuran pakan ini terbuat dari jagung, dedak, bungkil kedelai, tepung ikan dan lain-lain dengan kandungan protein sekitar 15%”. Mengenai konsumsi pakan, Pudianto mengatakan, “Untuk populasi 1000 ekor sampai umur 30 hari menghabiskan pakan 11 sak (550 kg)”. Sedang secara keseluruhan selama masa pemeliharaan 75 hari pakan yang dihabiskan menurut Sutarji 40 – 45 sak (2000 – 2250 kg). Sementara untuk pakan umur 0 – 40 hari mau tak mau menggunakan pakan pabrikan.

Vaksinasi dilakukan dengan intensif. Mulai umur 4 hari divaksin ND, IB dan berturut-turut gumboro A, ND Lasota, Gumboro B. vaksin AI diberikan di kandang pembesaran pada umur 34 atau 35 hari.

Sumber : http://www.trobos.com

April 25, 2009 - Posted by | Agrobisnis

1 Comment »

  1. bagai mana caranya mengasuh anak ayam yang baru menetas sampai umur satu minggu….
    adakah multivitamin herbal untuk masa pertumbuhan ayam…
    atas jawabanya saya ucapkan terimakasih….

    Comment by puji sri widodo | September 10, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: