Perjalanan

Semangat…!!!

Wagiran, Mantan Pecandu Narkoba

Wagiran, Menularkan Virus Pemberdayaan Melalui Kolam Ikan

MENJADI konglomerat dan berlimpah materi,
tidaklah sulit untuk diraih Wagiran (39).
Keuntungan dari berbisnis ikan gurami dan lele yang telah lama ia geluti sebenarnya mampu untuk mewujudkan itu, andai dia mau. Tapi tampaknya bukan itu yang menjadi
cita-cita pria bertubuh tambun ini. “Membantu masyarakat bangkit dari kemiskinan,” ujarnya.

Kemiskinan memang menjadi persoalan laten di republik ini. Upaya pemerintah yang berkuasa silih berganti pun masih terkesan sekadar slogan. Tapi yang dilakukan Wagiran, pengentasan kemiskinan tampak begitu nyata baik proses maupun hasilnya meskipun tidak melalui program khusus dan muluk-muluk. Tentu dengan kadar sesuai kemampuannya.
Mantan pecandu narkoba ini berhasil menebar virus pemberdayaan ekonomi rakyat secara mandiri melalui budidaya ikan lele dan gurami. Semua berawal dari kolam miliknya ukuran 1,5×3 meter persegi. Bermodal Rp 300 ribu, kolam tersebut dibuat dan diisi ikan lele yang dikelola bertujuh dengan teman-temannya.
“Waktu itu tahun 1998. Uang Rp 300 ribu itu sangu yang diberikan oleh pemilik yayasan di Bandung tempat saya menjalani karantina sebagai pecandu narkoba, ketika saya mau pulang ke Wates,” ungkap warga Dusun Toyan Desa Triharjo Kecamatan Wates Kulonprogo ini.
Budidaya lelenya lama-lama berkembang. Kini ia memiliki sekitar 2.000 meter persegi kolam berisi lele dan sebagian kecil ikan gurami, dengan omzet Rp 120 juta pertiga bulan. Teknologi budidayanya pun juga semakin maju, kendati semua dilakukan hanya secara otodidak. Kesuksesan Wagiran barangkali merupakan berkah dari kepekaan sosialnya yang tinggi.
“Lebih dari dua pertiga kolam milik saya untuk sosial. Misalnya ada orang yang hanya punya tanah kosong. Lalu dia saya beri terpal untuk kolam, bibit dan pakan. Pembagian keuntungannya, 30% untuk pengelola atau pemilik tanah, 30% persen untuk saya dan 30% untuk pengembalian investasi. Tapi syaratnya orang itu benar-benar miskin atau pengangguran yang punya semangat berjuang,” terang pria kelahiran 20 Desember 1969 ini.
Wagiran juga bukan tipe orang pelit. Ilmu yang dikuasainya secara otodidak itu ditularkan kepada siapapun yang mau belajar. Bersama petani lainnya mereka berhasil membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Trunojoyo yang kini memiliki 850 petak kolam dengan ukuran rata-rata 4×8 meter persegi dengan omzet sekitar Rp 800 juta pertiga bulan. Selain itu muncul pula kelompok-kelompok pembudidaya ikan yang menjadi binaannya.
Di Kulonprogo saja, Pokdakan binaannya kini berjumlah 80 kelompok. Banyak pula kelompok binaannya yang tersebar di Bantul, Sleman, Gunungkidul, Purworejo, Klaten, Boyolali, bahkan Lampung, dan Sorong Papua. Dengan kolam terpal dan sistem air diam, lahan-lahan tandus dan sulit air pun kini berhasil disulap menjadi kolam ikan lele dan gurami. Tak terhitung lagi jumlah pengangguran dan orang miskin yang terangkat derajat ekonominya berkat budidaya ikan tersebut.
Peluang Wagiran untuk menjadi konglomerat dan berlimpah harta sesungguhnya terbuka lebar. Tapi sampai saat ini ia masih tetap sosok sederhana. Kesehariannya bukan hanya untuk menambah luas kolam ikannya, tapi sebagian besar waktunya didedikasikan untuk masyarakat yang ingin bangkit dengan berbudidaya ikan baik di Kulonprogo maupun daerah-daerah lain.
Virus sukses Wagiran menular juga keluar kalangan petani. “Banyak pegawai negeri sipil, anggota polisi dan TNI yang sekarang ini punya sambilan memelihara ikan lele yang belajarnya dari sini,” terangnya seraya menambahkan, dirinya juga dipercaya LP Wirogunan yang menjadi pilot projek nasional untuk membina narapidana mengembangkan ekonomi produktif dengan berbudidaya ikan.
Perjuangan para pembudidaya ikan maupun pelaku usaha ekonomi produktif di pedesaan lainnya, memperlihatkan bahwa potensi lokal jika digarap serius sebenarnya mampu mengangkat derajat ekonomi rakyat. Para pemuda desa tak perlu lagi lari ke kota untuk mencari penghidupan dan membebani perkotaan dengan masalah sosial. Ketika pengangguran dan tekanan ekonomi menurun maka niscaya kriminalitas juga akan berkurang sehingga kehidupan yang damai dapat terwujud.
(Aksan Susanto)-c

http://www.kr.co.id

April 24, 2009 - Posted by | Agrobisnis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: