Perjalanan

Semangat…!!!

Singkong Kering Untuk Pakan Ternak

Singkong Kering Untuk Pakan Ternak

Singkong kering atau yang biasanya sering juga disebut dengan gaplek juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang ekonomis dan mudah didapatkan.
Gaplek (singkong dikeringkan)—biasa juga dikenal dengan cassava—memiliki berbagai kelebihan untuk alternatif substitusi jagung. Ia mengandung kanji (starch) 70 – 82 %, energi metabolik tinggi (2.900 -3.200 kcal), meski kandungan proteinnya rendah (0,7 – 1,3 %).

Sementara soal harga, di tingkat pengepul berkisar Rp 800–900/kg, dan masuk jalur perdagangan dijual Rp 1.000/kg. Dibandingkan harga jagung saat ini yang mencapai Rp 2.200/kg maka cassava layak dipilih untuk substitusi-sebagian pemakaian jagung.
Sentra penghasil cassava antara lain Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Kabupaten Gunung Kidul sejak lama terkenal sebagai sentra gaplek di Jogjakarta. Dari luasan daerah Gunung Kidul yang 148.536 ha, ditanami singkong 53.453 ha atau 35,98 %. Tingkat produksi 2005, 22.185,3 ton, dengan kapasitas produksi 49,36 kuintal/ha. Dari produksi tersebut, sebanyak 11 % dikonsumsi sendiri, disimpan sebagai gaplek 28 %, dijual basah sebagai ubi 21 %, dan dijual untuk bahan baku olahan 41 %. Sejauh ini baru 10 % produksi yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.

Netralisasi Sianogenik
Akar dan daun cassava mengandung senyawa anti nutrisi yaitu glukosida linamarin dan lotaustralin. Jika senyawa tersebut terhidrolisa oleh aktivitas enzim linamarase akan membebaskan asam sianogenik yang dapat menyebabkan keracunan pada ternak apabila terdapat dalam jumlah di atas batas aman. Dalam reaksinya, linamarin plus air dengan bantuan enzim linamarase menghasilkan asam sianogenik plus aseton plus glukosa. Tinggi rendahnya kadar total glukosida sianogenik dalam akar atau daun cassava akan membedakan antara varietas pahit (lebih tinggi toksisitasnya) dan varietas manis. Metoda ekonomis yang sejauh ini paling efektif menghilangkan seluruh atau sebagian asam sianogenik adalah dengan pemberian panas. Perlakuan suhu antara 40 dan 800C efektif untuk menghilangkan asam sianogenik. Dehidrasi alami dengan pemanasan di bawah sinar matahari juga merupakan cara yang aman untuk menghilangkan asam sianogenik tanpa akan mengaktifkan enzim linamarase. Batas aman kandungan sianogenik adalah Bunyi yang Khas
Gaplek sebenarnya merupakan salah satu upaya pengawetan produk singkong untuk tujuan (biasanya) non konsumsi. Cara pembuatannya sangat sederhana yaitu umbi akar dikelupas kulitnya, dipotong–potong, selanjutnya dijemur selama 2 – 3 hari tergantung intensitas sinar matahari. Bisa juga menggunakan alat pengering. Penjemuran dihentikan setelah kadar air turun menjadi 12-14%. Disebut kering apabila dipatahkan mengeluarkan bunyi yang khas. Racun sianogen sebagian besar terdapat pada kulit akar. Tindakan pengelupasan kulit, perendaman dan penjemuran, signifikan menurunkan kandungan sianogen. Standar spesifikasi minimum dari gaplek adalah kadar kanji minimum 65 %, serat kasar maksimum 5 %, pasir minimum 3 %, kadar air maksimum 14 %.
Cara pengawetan lain, membuatnya dalam bentuk pellet. Cassava kering digiling menggunakan hammer mill lalu dimasukkan dalam mesin pelletmill dimana sebelumnya dilewatkan ke dalam conditioner yang memberikan uap air panas (steam). Dengan bentuk pellet, kualitas bahan dan ukurannya menjadi lebih seragam, mengurangi tepung yang timbul selama penanganan, mengambil tempat 25 – 30 % lebih efisien dibandingkan jika masih dalam bentuk potongan besar, memudahkan dan mengefisienkan proses pengangkutan.

Kombinasi Cassava : Kedele
Karena cassava rendah protein, dalam penggunaannya sebagai bahan baku pakan unggas dikombinasikan dengan bahan kaya protein lain (bungkil kedele) seperti diperlihatkan pada Tabel 2. Kombinasi 82 % cassava dan 18 % kedele mempunyai kandungan nutrisi setara dengan jagung. Tepung cassava dapat mensubstitusi 45 – 50 % jagung untuk pakan broiler starter tanpa menimbulkan efek yang merugikan terhadap laju pertumbuhan, konsumsi pakan dan konversi pakan. Percobaan lain menambahkan tepung cassava yang berupa campuran antara bagian akar umbi dan daun serta tangkai lunak untuk menggantikan 25 % dan 50 % jagung yang dipakai (dari level jagung 50 %). Pakan percobaan mengandung 12,5 % dan 25 % tepung cassava. Campuran tepung cassava terdiri bagian akar dan campuran daun / tangkai 2,5 : 1; sedangkan perbandingan daun terhadap tangkai 5 : 1. Hasil percobaan memperlihatkan meskipun cassava digunakan pada level tinggi tidak terlihat adanya gangguan kesehatan, meski laju pertumbuhan dan efisiensi pakan terganggu (13 % dan 19 % laju pertumbuhan dibandingkan pakan kontrol serta 14 % dan 26 % konversi pakan). Penggunaan tepung cassava dianggap masih bernilai ekonomis terlebih saat harga jagung tinggi.

Efek Pigmentasi
Mengingat pakan broiler kebanyakan diberikan dalam bentuk pellet atau crumble maka cassava bisa digunakan dalam jumlah yang lebih tinggi. Pada percobaan terhadap ayam broiler, bagian akar cassava dapat diberikan sampai level 45 – 50 % sementara bagian daunnya 5 – 6 %. Tabel 3 memperlihatkan contoh formulasi penggunaan cassava untuk mensubstitusi jagung dalam percobaan pada broiler starter (3.a) dan finisher (3.b). Penggunaan cassava level tinggi dan juga kedele utuh tidak memberikan pengaruh merugikan terhadap kondisi litter (kotoran) yang dihasilkan broiler. Hanya saja penggunaan cassava (bagian akar) mengganggu pigmentasi kuning pada bagian kaki, paruh, kulit dan perlemakan. Jika dilakukan ranking pigmentasi dari 1 (pigmentasi buruk) sampai 4 (pigmentasi baik), maka pakan yang mengandung campuran cassava akar dan daun memberikan kualitas pigmentasi yang sama dengan pakan kontrol (jagung) bernilai 4. Apabila pakan disajikan dalam bentuk tepung, sebaiknya penggunaan cassava tepung tidak lebih dari 20 % (starter) dan 25 % (finisher).

Energi Metabolik dan Konsumsi Pakan
Berbeda dengan pakan broiler yang mensyaratkan energi tinggi, pakan layer membutuhkan tingkat energi metabolik yang lebih rendah (2800 kcal/kg). Sebaiknya penggunaan cassava dalam pakan layer tidak lebih dari 20 %. Lebih tinggi dari itu akan berisiko menurunkan konsumsi pakan. Pada percobaan menggunakan cassava tepung untuk mensubstitusi jagung 10 – 20 %, diberikan pada beberapa fase umur ayam petelur memperlihatkan perbedaan tingkat produksi telur, meski tidak signifikan. Ada kecenderungan konsumsi pakan sedikit menurun (1 gr/ek/hari).

Sumber: http://www.trobos.com

November 15, 2008 - Posted by | Agrobisnis

1 Comment »

  1. Thanks infonya.

    Comment by Kelinci | July 7, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: